Kegiatan ini dibuka langsung oleh Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Maulana, dan dihadiri perwakilan TP.3S Provinsi Jawa Barat, Ketua TP PKK Kota Sukabumi, ketua Bidang 1 TP PKK Kota Sukabumi, Kepala Bappeda, Dinas Kesehatan, DP2KBP3A, Bagian Pemerintahan, para camat serta lurah se-Kota Sukabumi.
Rakor ini digelar sebagai upaya memperkuat sinkronisasi lintas sektor dalam menurunkan prevalensi stunting secara terukur dan berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota menyampaikan apresiasi atas capaian Kota Sukabumi yang berhasil menekan prevalensi stunting dari 26,9% pada 2023 menjadi 19,7% pada 2024, berdasarkan data SSGI.
Capaian ini mengantarkan Kota Sukabumi meraih Penghargaan Kinerja Terbaik 1 Aksi Konvergensi Penurunan Stunting tingkat Jawa Barat 2024, serta Insentif Fiskal sebesar Rp 5,5 miliar dari Kementerian Keuangan RI.
Meski demikian, beliau menegaskan bahwa capaian tersebut tidak boleh membuat Kota Sukabumi berpuas diri, sebab target RPJMD 2025–2029 telah menetapkan penurunan prevalensi stunting secara bertahap hingga mencapai 13,36% pada 2029.
Target tersebut, menurutnya, bukan sekadar angka, tetapi komitmen moral dan kebijakan untuk memastikan generasi masa depan Kota Sukabumi tumbuh sehat dan berkualitas.
Untuk mendukung percepatan penurunan stunting, Wakil Wali Kota menyampaikan tiga arahan utama. Pertama, memperkuat koordinasi lintas sektor agar setiap OPD tidak bekerja secara parsial.
Kedua, memastikan intervensi tepat sasaran, mencakup ibu hamil, ibu menyusui, balita 0–59 bulan, remaja putri, calon pengantin, serta keluarga berisiko stunting.
Ketiga, membangun budaya data yang tertib dan akurat sebagai dasar pengambilan keputusan. Beliau menekankan bahwa seluruh perangkat daerah harus menguatkan ritme kerja serta memastikan setiap program benar-benar berdampak pada masyarakat.
“Setiap anak di Kota Sukabumi berhak tumbuh sehat, kuat, dan cerdas. Rakor ini adalah ruang untuk mempertegas komitmen kita,” tegasnya.
Dalam wawancara, Wakil Wali Kota mengungkapkan bahwa sejumlah apresiasi yang diterima Kota Sukabumi menjadi bukti nyata keberhasilan kolaborasi antar sektor dalam menurunkan stunting.
Ia juga menyampaikan bahwa intervensi gizi seperti penyediaan telur bagi ibu hamil KEK, tablet tambah darah untuk remaja putri, serta pendampingan calon pengantin terus dioptimalkan melalui kolaborasi berbagai pihak.
Selain itu, ia mengapresiasi gerakan masyarakat seperti “Sate Sapi Satu Telur Satu Pegawai” yang digagas relawan Cikole, dan membuka peluang agar inisiatif serupa direplikasi di seluruh kecamatan.
“Jika kita mampu menurunkan angka stunting lebih signifikan, bukan tidak mungkin insentif fiskal Kota Sukabumi akan meningkat di tahun berikutnya,” ujarnya.
Melalui Rapat Koordinasi TP3S ini, Pemerintah Kota Sukabumi menegaskan komitmen untuk memperkuat aksi konvergensi, memastikan intervensi tepat sasaran, dan terus memperkuat sinergi lintas sektor demi mewujudkan Kota Sukabumi yang Inovatif, Mandiri, Agamis, Nasionalis Kota Sukabumi Bercahaya.
Pewarta : Agung MF
Dokumentasi : Dede Soleh Saepul
DOKPIM KOTA SUKABUMI
Pranata Kehumasan
Ross Pristianasari



Posting Komentar
Silakan kirim saran dan komentar anda