Kegiatan ini turut dihadiri perwakilan Dispora, DLH, Disdik, pengurus masjid, serta para kepala sekolah PAUD se-Kota Sukabumi.
Dalam sambutannya, Bobby Maulana menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi juga bernilai ibadah dan merupakan visi jangka panjang dalam membangun generasi muda yang cinta lingkungan.
Ia menyoroti kondisi darurat sampah yang menjadi perhatian nasional, di mana banyak daerah menghadapi keterbatasan kapasitas tempat pembuangan akhir dan tantangan serius dalam pengelolaan sampah.
Bobby Maulana memaparkan bahwa skema pengelolaan sampah di Indonesia masih didominasi pola “kumpul, angkut, dan buang”.
Ia mengungkapkan, pada tahun 2025 Pemerintah Kota Sukabumi harus mengalokasikan Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp1,5 miliar untuk penggalian dan pengurugan sampah.
Saat ini, volume sampah yang masuk ke TPS Cikundul mencapai sekitar 184–187 ton per hari.
Dengan dibukanya tol sesi tiga, lonjakan tonase sampah diperkirakan dapat meningkat, yang berpotensi membebani anggaran daerah yang seharusnya dapat diarahkan untuk pembangunan infrastruktur.
Sebagai solusi, ia menekankan pentingnya membangun kesadaran dari hulu. Pemilahan sampah di tingkat rumah tangga dinilai sebagai langkah paling efektif, diikuti pemanfaatan sampah organik melalui sumur biopori serta pengolahan sampah non-organik agar memiliki nilai guna.
Bobby Maulana berharap sampah yang terbuang ke TPS Cikundul ke depan hanya berupa residu. Ia pun mengajak generasi muda untuk menjadikan pengelolaan sampah sebagai budaya, mengubah sampah dari “musuh” menjadi “berkah” melalui kesadaran dan kebiasaan yang berkelanjutan.
| Pewarta | : Husen |
| Dokumentasi | : Dede Soleh Saepul |
DOKPIM KOTA SUKABUMI |
|
| Pranata Kehumasan | : Ross Pristianasari |



Posting Komentar
Silakan kirim saran dan komentar anda