Hal tersebut disampaikan Wali Kota Sukabumi, H. Ayep Zaki, saat menggelar konsinyering Imlek pada Senin malam (16/2/2026) di Vihara Widhi Sakti, Warudoyong.
Kegiatan ini diikuti Wakil Wali Kota Bobby Maulana, unsur Forkopimda, Sekda Andang Tjahjandi, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), serta berbagai unsur kemasyarakatan Kota Sukabumi.
Kehadiran lintas elemen tersebut menjadi simbol nyata kebersamaan dan harmoni antarumat beragama di Kota Sukabumi.
Dalam keterangannya, Wali Kota Sukabumi menegaskan bahwa capaian Kota Sukabumi sebagai kota toleran harus terus dijaga dan ditingkatkan.
“Kota Sukabumi sudah tercatat sebagai kota toleransi terbaik nomor satu di Jawa Barat dan nomor enam se-Indonesia. Itu harus terus kita pertahankan. Artinya, kerukunan umat beragama di Kota Sukabumi sudah sesuai harapan dan tinggal kita tingkatkan lagi ke level nasional,” tegasnya.
Menurutnya, capaian tersebut bukan sekadar prestasi administratif, melainkan cerminan dari budaya hidup rukun yang telah tumbuh lama di tengah masyarakat.
Ia menilai, harmoni sosial merupakan fondasi utama dalam membangun kota yang maju dan berdaya saing.
Lebih lanjut, H. Ayep Zaki menyebutkan bahwa perayaan Imlek harus dijadikan momentum untuk memperkuat persatuan seluruh elemen masyarakat.
“Imlek ini harus menjadi modal dasar bagaimana Kota Sukabumi bersatu dan berdaulat. Semua tokoh masyarakat, lintas agama, kita bersatu. Persatuan ini akan membangun hukum yang baik, ekonomi yang kuat, sosial yang kokoh, pendidikan yang maju, dan terutama kedaulatan hukum,” ujarnya.
Ia menambahkan, jika konstruksi kebersamaan tersebut dibangun secara konsisten, maka kesejahteraan bukanlah hal yang mustahil.
“Kalau ini kokoh, saya pastikan Sukabumi akan menjadi kota yang sejahtera, adil, dan makmur. Sejahtera itu pilihan kita, pilihan masyarakat Sukabumi, pilihan tokoh lintas agama,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota juga menyampaikan target peningkatan peringkat toleransi Kota Sukabumi di tingkat nasional. Ia menargetkan Sukabumi dapat menembus empat besar kota toleran di Indonesia.
“Kita sudah punya Perwal dan capaian kerukunan umat beragama. Tinggal kita kuatkan lagi. Bahkan ke depan bisa kita dorong menjadi Perda, sehingga ada dukungan anggaran khusus melalui APBD untuk pembangunan kota toleransi,” jelasnya.
Menurutnya, komitmen terhadap toleransi tidak boleh berhenti pada simbol dan seremoni, melainkan harus diwujudkan dalam kebijakan nyata yang berkelanjutan. Dukungan regulasi dan penganggaran menjadi langkah strategis agar toleransi terjaga secara sistematis.
Ia juga mengaku memiliki kedekatan emosional dengan lingkungan vihara tersebut.
“Saya sangat bangga dan senang. Saya sudah tiga sampai empat kali datang ke sini. Setiap ada undangan, saya hadir. Karena memang saya harus menjaga kerukunan mulai dari wali kota bersama warganya,” tuturnya.
Wali kota turut mengenang mendiang sahabatnya, Pak Halim, yang dikenal aktif dalam kegiatan keagamaan di vihara tersebut.
Kenangan itu, menurutnya, menjadi bagian dari perjalanan panjang persahabatan lintas iman yang telah ia jalani sejak lama.
Suasana konsinyering berlangsung hangat dan penuh keakraban. Perayaan Imlek tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga ruang dialog dan silaturahmi antarumat beragama.
| Pewarta | : Kang Warsa |
| Dokumentasi | : Dede Soleh Saepul |
DOKPIM KOTA SUKABUMI |
|
| Pranata Kehumasan | : Ross Pristianasari |




Posting Komentar
Silakan kirim saran dan komentar anda