01 April 2022


Grup Teater Epigonen SMA Negeri 1 Mementaskan Sasakala Pakujajar di Gunung Parang pada Peringatan Hari Jadi Ke-108 Kota Sukabumi


Kelahiran kota-kota di dunia ini selalu diawali oleh kisah yang menyertainya. Kenapa sebuah kota dilahirkan, dibangun, dan diciptakondisikan? Kota Roma dibangun bersama cerita Remus dan Romulus. Yerussalem dibangun bersama kisa-kisah profetik yang menyertainya, Armstrong menyebut Yerussalem dengan “Satu Kota Tiga Iman”. Hal tersebut disebabkan oleh alasan tiga agama besar di dunia (Yahudi, Kristen, dan Islam) terkoneksi dengan kisah-kisah di Yerussalem. Sebuah dataran rendah berada di bawah perbukitan Haran atau Bakkah akan tetap gersang dari dulu sampai sekarang jika masyarakat di sana tidak membingkai kotanya dengan kisah Quranik. Sampai sekarang, dataran rendah tersebut dikenal dengan sebutan Mekah (Makkatul Muharromah).

Lalu bagaimana kita sebagai orang Sukabumi harus membingkai dan menghiasi kota dengan cerita dan kisah yang menyertainya? Pertama, menggali, menuturkan, dan mebahasakan kembali cerita-cerita tentang Sukabumi sudah seharunya dimulai oleh orang-orang yang telah mengalami langsung atau bersentuhan dengan cerita-cerita tersebut. Sebagai contoh, kenangan tentang keberadaan gedung pertunjukan dan bioskop di Sukabumi sudah harus dimulai dibahasakan kembali.

Kedua, asal mula penamaan Sukabumi harus ditempatkan dalam kisah-kisah dengan kedalaman filosofis, tidak sekadar bahwa penafsiran Sukabumi cukup pada makna “tempat bumen-bumen”. Walakin, memberikan makna-makna baru untuk kata Sukabumi memang tidak salah selama tidak berbenturan dengan makna leksikal dan idiom lainnya. Misalnya, secara letterlijk, kata Sukabumi berasal dari Suka dan Bumi, Senang kepada Bumi, darinya dapat saja muncul makna yang lebih teknis: Kota Sukabumi merupan rumah besar bersama yang enak ditempati.

Ketiga, tidak mudah bagi siapa saja untuk memasuki alam masa lalu sebuah tempat dengan tanpa memasuki kepala orang-orang yang pernah mengalami langsung babak cerita. Meskipun demikian, bukan berarti menghadirkan masa lalu harus bersifat rigid. Cerita rakyat yang tersebar di Sukabumi –jika kita memiliki tekad kuat menginventarisasinya- begitu beragam. Kisah-kisah tersebut bukan sekadar beragam, juga masih sering dikisahkan hingga penghujung tahun 1990-an di masyarakat Sukabumi.

Maka, mau tidak mau, untuk merawat ingatan dan mengembalikan masa lalu Kota Sukabumi, pemerintah bersama masyarakat harus memiliki tekad kuat mengadirkan kisah dan cerita Sukabumian secara utuh, cair, dan mudah dituturkan kembali. Bentuk-bentuk penyebaran kisah dan cerita Sukabumi dapat melalui berabagai media baik cetakan atau digital.

Pakujajar di Gunung Parang


Sasakala Pakujajar di Gunung Parang dilahirkan sebagai upaya untuk merawat ingatan dan menjaga masa lalu tentang asal-usul Sukabumi. Suasana bathin yang tersirat di dalam alur cerita ini menggambarkan nilai-nilai positif dalam kehidupan antara lain: harapan, keteguhan, optimisme, dan semangat pembuktian.

Sasakala Pakujajar di Gunung Parang tidak sekadar mengisahkan asal-usul sebuah tempat, lebih dari itu mengandung banyak pesan moral sebagai pembentuk identitas diri manusia Sukabumi. Latar belakang cerita yang terjadi pada masa keruntuhan Kerajaan Pajajaran pada tahun 1579 sebagai akibat dari serangan Kesultanan Banten merupakan sebuah gambaran era romantisme lebih awal terjadi di Nusantara jika dibandingkan dengan peradaban lain, misalnya Barat.

Tokoh utama dalam cerita tersebut, Nyai Pudak Arum dan Wangsa Suta memiliki perwatakan; dipenuhi oleh harapan, keteguhan, optimisme, dan semangat pembuktian. Semangat dari nilai-nilai ini hampir sepenuhnya disuguhkan dalam cerita yang terjadi pada satu masa ketika patriarki menjadi tradisi arus utama di mana dominasi maskulinitas terhadap feminitas benar-benar tampil tidak sekadar dalam dunia ide juga mengejewantah dalam kehidupan.

Watak yang mengendap dalam diri Nyi Pudak Arum adalah semangat keteguhan dan kesetaraan. Ia merupakan perempuan yang mampu melampaui tradisi di zamannya. Nyi Pudak Arum memberikan sarat kepada Wangsa Suta untuk membuat kampung di sebuah tempat dengan kontur tanah (waruga lemah) yang miring ke sebelah selatan. Sarat ini sebagai pembuktian keseriusan Wangsa Suta untuk mempersunting Nyi Pudak Arum. Pemberian sarat oleh perempuan kepada lelaki bukan berarti jalinan cinta dibangun oleh sebuah transaksi, semangat kesetaraan lah yang hendak disampaikan oleh seorang perempuan bernama Nyi Pudak Arum.

Sarat tersebut dapat dipenuhi oleh Wangsa Suta sebagai semangat pembuktian kepada Nyi Pudak Arum bahwa niatnya untuk mempersunting perempuan cantik tersebut benar-benar keluar dari lubuk hatinya. Hanya saja, tradisi arus utama patriarki sering tampil menjadi benteng pemisah antara harapan dan kenyataan. Kecantikan paras Nyi Pudak Arum telah memikat banyak lelaki termasuk para demang dan saudagar di Sukabumi. Tawaran untuk menjadikan Nyi Pudak Arum sebagai selir dari beberapa lelaki ditolak dengan santun. Para demang dan saudagar menempuh berbagai cara untuk mendapatkan Nyi Pudak Arum mulai dari menawarkan kebaikan hingga fitnah yang menyebutkan bahwa calon istri Wangsa Suta ini merupakan perempuan pembawa malapetaka yang harus dipenggal.

Dengan semangat dan optimisme, Wangsa Suta berusaha menyelamatkan Nyi Pudak Arum, meskipun akhirnya mereka berdua harus berpisah. Nyi Pudak Arum diasingkan ke daerah sebelah utara. Wangsa Suta tetap menyimpan harapan, keterpisahan dirinya dengan Nyi Pudak Arum bukan akhir cerita hidupnya. Seorang pandita bernama Resi Saradea mengatakan kepada Wangsa Suta, kelak pada suatu hari, dirinya akan menikah dengan perempuan titisan dari Nyi Pudak Arum.

Harapan, optimisme, dan semangat pembuktian dari Wangsa Suta telah membuka babak baru kehidupan di Gunung Parang. Keruntuhan Pajajaran sebagai penyangga terakhir Tatar Sunda memang menyisakan kepedihan dan kegetiran sekaligus membuka babak peradaban baru di sebuah tempat yang sekarang dikenal dengan nama Sukabumi.

Herinneringen Aan Soeka Boemi

Depo Kearsipan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Sukabumi beberapa waktu lalu telah menemukan arsip penting berbentuk buku berjudul “Herinneringen Aan Soeka Boemi” karya J.M. Knaud terbitan tahun 1976 oleh Indisch Tojdschrift Tong Tong, Den Haag. Karya ini menampilkan kenangan seorang Belanda saat tinggal di Sukabumi di jaman normal dahulu (1900-1942). Suatu jaman yang disebut-sebut oleh para orang tua kita sebagai jaman normal. Ketika perkembangan kota tampak semakin pesat, segala kebutuhan dapat dicukupi relatif lebih mudah, sebelum kedatangan Jepang yang memorakporandakan segalanya.

Berikut saya kutip beberapa paragraf Sukabumi dalam Kenangan:

Konon zaman dahulu di daerah Priangan (Parahiyangan) hidup Raja Surya Kencana, Matahari Emas nama yang sesuai untuk raja yang bijaksana ini, penguasa dari Kerajaan Cianjur. Ia pandai dan adil serta menyukai keindahan alam dan keharuman bunga-bunga. Tidak jauh dari puncak Gunung Gede dimana ia seringkali berdiam untuk bersemedi, ia menyuruh untuk membuat lapangan edelweisz.

Raja Surya Kencana menyukai kesunyian tempat yang tinggi ini dan seringkali berdiam di sekitar lapangan edelweiss yang luas ini, diliputi kesejukan udara pegunungan. Di tempat ia memerintahkan pula untuk membangun keraton yang sederhana di pinggiran taman bunga.

Di sini ia secara diam-diam melaksanakan pekerjaan kenegaraan dan di sini pula ia dapat memecahkan persoalan dan kesulitan rakyatnya. Hasil pemikirannya segar dan indah seperti keadaan daerah disekelilingnya.

Di keraton ini pula ia menikmati kehidupan malamnya serta wafat dengan tenang, ditangisi rakyatnya yang ia cintai. Raja Surya Kencana yang semasa hidupnya seperti Matahari Emas memancarkan sinar ke wilayah kekuasaannya, dikebumikan didekat lapang edelweisz.

Seorang dayang yang tertua menjaga makamnya yang suci. Jika ada orang dating terlalu dekat ke kuburan yang suci itu, maka dayang yang tua itu akan mengeluarkan kata-kata dengan nada kera menggelegar. Rentetan nada-nada keras itu bergemuruh turun dari gunung dan mencapai Gunung Parang Desa Sukabumi sehingga sejak saat itu seringkali terdengar suara marah-marah.

Demikianlah legenda Sukabumi yang turun-temurun diceritakan oleh nenek moyang.

Pada akhir tahun 1813, waktu penjajahan Inggris periode pemerintahan Raffles, datanglah seseorang bernama Andries de Wilde yang menjabat sebagai Administratur Perkebunan Gunung Parang. Perkebunan ini letaknya lereng bagian selatan Gunung Gede di Tanah Parahyangan, Pada waktu itu kopi masih merupakan penghasilan utama di daerah ini sebelum teh muncul dan mendesak tanaman kopi.

Andries de Wilde, seperti tuan-tuan tanah lainnya yang beruntung ketika itu di Pulau Jawa, menjalankan pemerintahannya sendiri, bahkan ia mempunyai perumahan yang dihuni oleh wanita-wanita cantik yang berasal dari daerah setempat, dan orang-orang yang iri menyebut tempat itu sebagai Harem.

Pada waktu itu kekuasaan dan kekayaan seseorang tuan tanah dapat diukur selain dengan emas, tanah juga dengan banyaknya wanita-wanita yang dipelihara. Jadi dapatlah dimengerti bahwa ia berbuat demikian hanya untuk mengungguli tuan-tuan tanah lainnya. Rakyatnya dan wanita-wanita peliharaan (piaraan) hidup makmur dan setia, selain itu ia memperhatikan kesehatan mereka.

Sebelum tahun 1815, Andries de Wilde menulis diatas suratnya nama tempat “Tjicolle” (Cikole). Ini dapat diartikan bahwa daerah kekuasaannya (tanah miliknya) diberi nama Cikole. Tetapi seorang keturunan Andries de Wilde, Nyonya C.H.E. Wisboom Verstegen Kautze … (Vora Westland) menulis dalam bukunya, bahwa Andries de Wilde untuk tanah miliknya diberi nama Soeka Boemi.

Pada tanggal 13 Januari 1815 Andries de Wilde menulis surat kepada sahabatnya Engelhart, bahwa ia atas permohonan kepala-kepala Pribumi mengganti nama Tjicolle dengan Soeka Boemi (ditulis dengan dua suku kata).

Dengan demikian Andries de Wilde dianggap sebagai pendiri Sukabumi, walaupun penggantian nama tempat itu atas permohonan kepala-kepala orang Sunda. Disini timbul pertanyaan, apakah yang dimaksud dalam permohonan kepala-kepala itu merubah nama desa yang sudah ada sebelum kedatangan Andries de Wilde.

Menurut Dr. F. de Haan (dalam “Priangan” bagian pertama. Personalia II halaman 291) orang-orang Sunda sampai permulaan abad kedua puluh masih saja menyebut Sukabumi dengan nama Tjicolle. Dapat diketahui pula bahwa kira-kira tahun 1800 nama Goenoeng Parang sering dipakai. Goenoeng Parang adalah nama gunung kecil di sebelah selatan lereng Gunung Gede, di mana terletak Sukabumi. Dalam legenda Raja Surya Kencana disebut-sebut juga nama Sukabumi di samping nama Goenoeng Parang.


Dokumen Hari Jadi Kota Sukabumi

Tanggal 1 April 1914 ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Sukabumi merujuk pada Staatsblad No. 310 dan 311 Tahun 1914. Dokumentasi tentang penetapan tersebut dapat dibuka pada berkas di bawah ini.








Kang Warsa
Terima kasih kepada Thommy Ardhian, Arsiparis Ahli Muda Bidang Arsip Dispusipda Kota Sukabumi yang telah memberikan dukungan data dan dokumen kearsipan kepada penulis.

0 Tanggapan

Silakan kirim saran dan komentar anda