Dalam kesempatan tersebut, Wakil Wali Kota Sukabumi didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Sekretaris Dinas, para Kepala Bidang, serta komunitas penggerak lingkungan Restoe Boemi bersama Ketua Restoe Boemi, Kia Florita. Turut hadir pula Koordinator Sumber Daya Manusia dan Organisasi dari KLH.
Pertemuan ini membahas penyusunan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) terkait pengelolaan lingkungan dan sampah, sekaligus menjadi ruang diskusi untuk melihat berbagai upaya yang telah dilakukan di Kota Sukabumi dalam menangani persoalan sampah.
Wakil Wali Kota Sukabumi menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Sukabumi berkomitmen memperkuat pengelolaan sampah dengan pendekatan dari hulu hingga hilir. Dari sisi hulu, masyarakat didorong untuk mulai memilah sampah sejak dari rumah, khususnya sampah non-organik yang dapat disalurkan melalui bank sampah.
Selain itu, Pemerintah Kota Sukabumi juga menggagas inovasi Sipaling Berseri sebagai upaya mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah sejak dari hulu. Program ini menekankan keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah di lingkungannya masing-masing, termasuk melalui kebiasaan memilah sampah dari rumah.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Sukabumi juga menyiapkan sayembara inovasi pengelolaan sampah di tingkat kelurahan. Dari 33 kelurahan yang ada di Kota Sukabumi, nantinya akan dipilih tiga konsep terbaik yang dinilai mampu menghadirkan solusi pengelolaan sampah di wilayahnya. Kelurahan dengan konsep terbaik akan mendapatkan dukungan berupa mesin pencacah plastik.
Sebagai upaya mengurangi sampah organik, masyarakat juga didorong untuk membuat lubang biopori di setiap rumah. Langkah ini diharapkan mampu membantu mengurangi volume sampah organik sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan.
Di sisi hilir, pengelolaan sampah diarahkan agar dapat diselesaikan di TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle) sehingga volume sampah yang harus dibuang ke luar daerah dapat diminimalkan. Pemerintah juga tengah membenahi sistem retribusi sampah agar lebih tertata dan berkelanjutan.
Wakil Wali Kota Sukabumi juga berharap sektor usaha seperti hotel dan restoran ke depan dapat mengelola sampah organiknya secara mandiri sebagai bagian dari tanggung jawab terhadap lingkungan.
Sementara itu, Ketua Restoe Boemi, Kia Florita, menyampaikan bahwa komunitas Restoe Boemi aktif melakukan edukasi kepada masyarakat terkait pengelolaan sampah, baik melalui kegiatan di lapangan maupun melalui media sosial.
Menurutnya, edukasi mengenai sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat. Oleh karena itu, Restoe Boemi terus berupaya membangun kesadaran masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan.
Selain melalui kampanye di media sosial, Restoe Boemi juga aktif memberikan edukasi ke sekolah-sekolah, mulai dari PAUD hingga SMP. Di Kota Sukabumi sendiri terdapat sekitar 400 PAUD, 128 SD, dan 40 SMP yang menjadi sasaran edukasi pengelolaan sampah.
Melalui kegiatan tersebut, sekolah didorong untuk mengelola sampah organik secara mandiri, misalnya dengan mengolahnya menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman maupun kegiatan hidroponik di lingkungan sekolah.
Perwakilan KLH menyampaikan bahwa pengelolaan sampah saat ini menjadi salah satu prioritas nasional yang harus segera diselesaikan. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah daerah, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci dalam mengatasi persoalan sampah.
KLH juga mengapresiasi berbagai upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Sukabumi bersama komunitas dan masyarakat dalam meningkatkan kesadaran serta aksi nyata dalam pengelolaan sampah.
Melalui diskusi tersebut diharapkan pengelolaan sampah di Kota Sukabumi dapat terus diperkuat sehingga persoalan sampah dapat ditangani secara berkelanjutan dari hulu hingga hilir.
| Pewarta | : Indah |
| Dokumentasi | : Fadhil |
DOKPIM KOTA SUKABUMI |
|
| Pranata Kehumasan | : Ross Pristianasari |




Posting Komentar
Silakan kirim saran dan komentar anda