Rakor tersebut membahas kondisi persampahan yang saat ini dinilai sudah memasuki kategori darurat dan membutuhkan langkah penanganan serius secara bersama-sama.
Dalam arahannya, Bobby Maulana menegaskan bahwa persoalan sampah harus ditangani melalui koordinasi lintas sektor dan keterlibatan aktif masyarakat.
Menurutnya, pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga membutuhkan perubahan pola pikir dan kesadaran masyarakat sejak dari rumah tangga.
“Perlu koordinasi yang kuat untuk mengatasi sampah. Masyarakat juga harus diberitahu mengenai kondisi sampah saat ini dan diajari pemilahan sampah sejak dari rumah,” ujar Bobby Maulana.
Ia juga menyinggung persoalan emisi gas metana dari timbunan sampah yang kini menjadi perhatian dunia. Dalam forum tersebut disampaikan bahwa TPA Bantar Gebang menempati peringkat kedua terkait emisi gas metana yang mencapai sekitar 6,3 juta ton per tahun akibat timbunan sampah organik.
“Sekarang persoalan sampah sudah menjadi kategori darurat. Sampah organik yang tertimbun menghasilkan gas metana dan ini menjadi perhatian serius,” katanya.
Bobby menjelaskan, pengelolaan sampah harus dimulai dari hulu melalui pemilahan sampah organik dan anorganik. Selain itu, pola pengelolaan yang sudah berjalan efektif di suatu wilayah diharapkan dapat diterapkan di wilayah lain sebagai bentuk penguatan penanganan sampah berbasis masyarakat.
Pemerintah Kota Sukabumi juga mendorong pengembangan TPS3R serta pemetaan TPS oleh DLH sebagai bagian dari solusi jangka panjang dalam pengelolaan sampah di Kota Sukabumi.
“Mulai dulu dari hal kecil. Mengolah sampah memang membutuhkan waktu panjang, tetapi harus terus dijalankan,” ucapnya.
Dalam rakor tersebut turut dibahas kondisi sejumlah titik penumpukan sampah yang menjadi perhatian masyarakat, termasuk persoalan sampah di kawasan Jalan A. Yani yang sempat viral di media sosial. Menurut Bobby, kondisi tersebut harus menjadi bahan evaluasi dan perhatian bersama agar penanganan sampah dilakukan secara bertahap namun konsisten.
“Upaya kesadaran dan sinergi harus terus dilakukan. Kita mulai menyelesaikan satu per satu persoalan yang ada,” ungkapnya.
Bobby Maulana juga menyampaikan bahwa penutupan TPS nantinya harus dibarengi dengan kesiapan pengelolaan sampah di masyarakat agar tidak menimbulkan penumpukan baru di wilayah lain.
“TPS nantinya akan ditutup. Dengan kondisi sampah yang sudah menumpuk saat ini, masyarakat juga harus mulai dibiasakan memilah dan mengelola sampah dengan baik,” ujarnya.
Selain membahas penanganan sampah, Bobby Maulana juga menyinggung pentingnya menjaga kebersihan kota sebagai bagian dari citra daerah dan promosi wisata Kota Sukabumi. Ia menilai jangan sampai wisatawan yang datang justru mendapatkan kesan lingkungan yang kotor akibat persoalan sampah.
“Jangan sampai promosi wisata terganggu karena persoalan sampah. Kebersihan kota harus menjadi perhatian bersama,” katanya.
Sementara itu, Ketua Restoe Boemi, Kia Florita mengatakan bahwa pihaknya selama satu tahun terakhir turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi persampahan di Kota Sukabumi. Menurutnya, persoalan sampah yang terus berulang berpotensi menjadi bom waktu apabila tidak ditangani secara serius dan berkelanjutan.
“Permasalahan sampah ini tidak selesai-selesai dan akhirnya bisa menjadi bom waktu. Rencana penanganannya juga membutuhkan waktu tiga sampai empat tahun untuk berjalan maksimal,” ujarnya.
Kia Florita menjelaskan bahwa pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada sekolah dan masyarakat terkait pengelolaan sampah mandiri, termasuk edukasi pembuatan biopori menggunakan media sederhana seperti galon bekas.
“Kami terus sosialisasi bagaimana membuat biopori dan mengedukasi masyarakat supaya sampah bisa selesai di tempat masing-masing. Tetapi memang masih terbentur anggaran dan pemahaman masyarakat,” katanya.
Ia berharap masyarakat dapat mulai membiasakan pemilahan sampah dari rumah sambil terus mencari solusi bersama agar pengelolaan sampah berjalan lebih baik.
“Pemilahan sampah dari rumah harus mulai dibiasakan sambil terus mencari solusi bersama agar pengelolaan sampah berjalan baik,” tambahnya.
Melalui rakor ini, Pemerintah Kota Sukabumi berharap seluruh elemen masyarakat dapat memperkuat kolaborasi dalam penanganan sampah, meningkatkan kesadaran lingkungan, serta membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih baik dan berkelanjutan di masa mendatang.
| Pewarta | : Indah |
| Dokumentasi | : Agus R |
DOKPIM KOTA SUKABUMI |
|
| Pranata Kehumasan | : Ross Pristianasari |





Posting Komentar
Silakan kirim saran dan komentar anda