Kegiatan yang diikuti pengurus TP PKK dan kader Posyandu se-Kelurahan Karamat ini dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan kapasitas kader sekaligus memperkuat sinergitas PKK dan Posyandu dalam mendukung pelayanan kepada masyarakat, khususnya dalam penanganan dan penurunan stunting serta tuberkulosis (TBC).
Dalam sambutannya, Lurah Karamat menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas kader menjadi hal penting agar peran PKK dan Posyandu dapat semakin optimal. Melalui Bimtek ini, kader mendapatkan penguatan mengenai berbagai hal terkait penanganan stunting dan TBC, termasuk deteksi dini di masyarakat serta penguatan pelayanan Posyandu.
Ia berharap peningkatan kapasitas tersebut dapat membuat kader semakin siap dalam menjalankan tugas, melakukan deteksi dini, memberikan edukasi, serta mendampingi masyarakat.
Sementara itu, Ranty Rachmatilah dalam arahannya menekankan bahwa persoalan kesehatan masyarakat membutuhkan sinergitas dan kolaborasi dari berbagai pihak. PKK dan Posyandu memiliki posisi strategis karena berhubungan langsung dengan keluarga dan masyarakat.
Menurutnya, upaya penanganan stunting harus dilakukan secara menyeluruh dan dimulai dari hulu. Perhatian terhadap kesehatan remaja, pemenuhan gizi, literasi anak, kesehatan ibu, hingga pencegahan perkawinan pada usia terlalu muda menjadi bagian penting dalam membangun generasi yang sehat.
“Kalau kita bicara stunting, jangan hanya melihat ketika anak sudah lahir. Kita harus melihat dari hulunya, mulai dari remaja, gizi, kesehatan ibu, sampai kondisi keluarga,” ujar Ranty.
Ia juga mengingatkan bahwa kondisi kesehatan masyarakat berkaitan erat dengan kondisi sosial dan ekonomi keluarga. Karena itu, kader diharapkan ikut memperhatikan kondisi masyarakat serta memastikan data yang ada benar dan diperbarui agar program pemerintah dapat diberikan secara tepat sasaran.
Ranty juga menyoroti persoalan TBC yang membutuhkan perhatian bersama. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko TBC di antaranya kontak erat, hunian padat, keterlambatan diagnosis, pengobatan yang tidak tuntas, daya tahan tubuh, kondisi ekonomi dan sosial, serta kebiasaan merokok.
Untuk itu, kader didorong memperkuat upaya temukan, periksa, dan dampingi, terutama terhadap masyarakat yang mengalami gejala seperti batuk lebih dari dua minggu. Posyandu diharapkan dapat menjadi salah satu pintu deteksi sekaligus penghubung masyarakat dengan layanan kesehatan.
“Jangan hanya menemukan, tetapi pastikan diperiksa dan didampingi sampai pengobatannya tuntas. Kita juga harus menghilangkan stigma terhadap penderita TBC,” katanya.
Selain persoalan kesehatan, Ranty mengingatkan kader mengenai pentingnya menjadi masyarakat yang melek informasi di tengah derasnya arus informasi dan maraknya berita hoaks.
Menurutnya, masyarakat perlu lebih bijak dalam menerima informasi dan tidak terburu-buru menyebarkan sesuatu yang belum diketahui kebenarannya. Terlebih, informasi yang berkaitan dengan kepentingan publik dapat menimbulkan kesalahpahaman apabila tidak dipahami secara utuh.
Ia mencontohkan informasi yang sempat beredar mengenai pelaksanaan upacara yang disebut terlambat, padahal pelaksanaannya telah disesuaikan dengan detik-detik Proklamasi. Hal tersebut, menurutnya, menjadi pembelajaran agar masyarakat tidak mudah terbawa oleh informasi yang keliru.
“Jangan sampai kita terbawa berita yang salah. Saring sebelum sharing. Apa pun yang kita posting itu ada konsekuensinya. Mari menjadi pribadi yang menenangkan, bukan menjadi sumber keributan,” tegas Ranty.
Ia pun mengajak para kader untuk saling mengingatkan, menjaga sopan santun dalam berkomunikasi, serta bersama-sama menjaga kondusivitas di lingkungan Kelurahan Karamat.
Sebagai pelayan masyarakat, kader juga diharapkan mampu menjaga kesehatan diri, baik secara fisik maupun mental. Ranty mengajak para kader untuk tidak saling menjatuhkan dan memahami bahwa setiap orang memiliki tantangan serta persoalan masing-masing.
“Women support women. Mari kita saling mendukung. Perempuan yang ingin membangun tidak punya waktu untuk menjatuhkan orang lain,” ujarnya.
Ranty juga mengajak para kader untuk terus belajar dari berbagai pengalaman, termasuk dalam kehidupan keluarga. Menurutnya, tidak ada rumah tangga yang sempurna. Yang terpenting adalah kemauan untuk terus bertumbuh, saling memperbaiki kesalahan, memaafkan, dan mensyukuri apa yang dimiliki.
Ia berharap Bimtek tersebut tidak hanya meningkatkan pengetahuan kader, tetapi juga memperkuat semangat kolaborasi dalam menjalankan program di masyarakat.
“Semua memiliki peran dan semuanya saling beririsan. Mari kita perkuat kolaborasi antara PKK, Posyandu, pemerintah, tenaga kesehatan dan masyarakat. Bersama-sama kita prioritaskan hal yang lebih penting untuk kepentingan masyarakat,” pungkasnya.
Melalui peningkatan kapasitas kader dan penguatan sinergitas lintas sektor, TP PKK Kota Sukabumi terus mendorong terwujudnya keluarga yang sehat, masyarakat yang tangguh, serta lingkungan yang kondusif.
| Pewarta | : Indah |
| Dokumentasi | : Iqbal |
DOKPIM KOTA SUKABUMI |
|
| Pranata Kehumasan | : Ross Pristianasari |




Posting Komentar
Silakan kirim saran dan komentar anda