Garda Terdepan Penurunan Tengkes, Sinergi Kader PKK dan Posyandu di Masyarakat

Pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan kapasitas kader PKK dan Posyandu di kelompok arus bawah menjadi langkah krusial. Para kader merupakan elemen masyarakat yang bersentuhan langsung dengan persoalan di lapangan, terutama dalam menekan angka prevalensi tengkes (stunting).

Lebih dari itu, eskalasi kemampuan kader dalam menyaring informasi di era disrupsi digital menjadi keniscayaan demi menghindari bias antara fakta dan kebohongan.

Realitas tersebut mengemuka dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) bertajuk “Peran Strategis Kader Posyandu dan PKK dalam Percepatan Penurunan Stunting” di Kelurahan Baros, Kota Sukabumi, pada Senin (24/7) pagi.

Agenda strategis ini dihadiri langsung oleh Ketua TP-PKK Kota Sukabumi Ranty Rachmatilah, Camat Baros Angga Sugia Wijaya, Ketua TP-PKK Baros, Lurah Baros, beserta para kader setempat.

Ketua TP-PKK Kota Sukabumi, Ranty Rachmatilah, mengajak para kader untuk mengedepankan sikap bijak dalam merespons arus informasi. Lebih jauh, Ranty secara tegas menyoroti urgensi penanganan tengkes sebagai isu fundamental bagi masa depan bangsa.

"Berbicara mengenai stunting, kita berhadapan dengan sebuah ancaman yang nyata bagi bangsa ini. Stunting adalah masalah gagal tumbuh kembang yang berdampak fatal pada perkembangan kognitif atau kecerdasan otak anak. Anak yang stunting akan rentan terhadap penyakit dan akan kesulitan bersaing di masa depan," tegas Ranty.

Visi Indonesia Emas 2045, papar Ranty, menuntut fondasi kesehatan anak yang prima sejak dini. Keberhasilan mencetak generasi unggul sangat bergantung pada kualitas pengasuhan di tingkat keluarga dan Posyandu.

"Saat ini, kita sedang berlari menyongsong visi Indonesia Emas 2045. Anak-anak balita yang hari ini kita asuh, timbang, dan kita ukur di Posyandu adalah mereka yang kelak akan menjadi pemimpin, penggerak, dan tulang punggung Kota Sukabumi 20 tahun mendatang. Jika fondasi kesehatan mereka rapuh karena stunting, maka mimpi mewujudkan generasi emas hanya akan menjadi angan-angan," sambungnya.

Ujung Tombak Pelayanan dan Edukasi

Dalam struktur intervensi kesehatan pemerintah, kehadiran kader merupakan penyambung lidah sekaligus pelaksana program yang paling efektif. Kedekatan sosiologis kader dengan masyarakat menjadi modal utama yang tidak tergantikan oleh sistem birokrasi apa pun.

"Di sinilah letak relevansi dan urgensi dari tema Bimtek kita pada hari ini. Ibu-ibu kader Posyandu dan pengurus TP-PKK adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang berdiri di garda terdepan. Pemerintah kota, secanggih apa pun programnya, tidak akan pernah bisa menyentuh langsung ke jantung permasalahan di tingkat akar rumput tanpa kehadiran ibu-ibu," ucap Ranty.

Mandat pokok PKK, khususnya Kelompok Kerja (Pokja) IV yang membidangi kesehatan dan lingkungan hidup, memberikan ruang gerak luas bagi kader untuk melakukan intervensi langsung.

"Tim Penggerak PKK memiliki mandat yang sangat kuat melalui 10 Program Pokok PKK. PKK memiliki akses langsung untuk mengetuk pintu-pintu rumah warga. Kita memiliki keunggulan pendekatan persuasif sebagai sesama perempuan dan ibu, untuk mengedukasi keluarga agar menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)," jelas Ranty.

Sinergi antara edukasi dan tindakan medis awal ini bertumpu pada kejelian kader Posyandu.

"Kader Posyandu adalah ujung tombak pelayanan kesehatan dasar di masyarakat. Tangan-tangan ibu-ibulah yang pertama kali mendeteksi apakah seorang balita mengalami keterlambatan pertumbuhan atau tidak. Penimbangan berat badan, pengukuran panjang atau tinggi badan, hingga ploting pada kurva pertumbuhan (KMS), adalah benteng pertahanan pertama kita melawan stunting," tambahnya.

Apabila kolaborasi penggerakan masyarakat oleh TP-PKK dan deteksi dini oleh kader Posyandu berjalan optimal, Ranty meyakini angka tengkes di wilayah Baros akan turun secara signifikan.

Mendobrak Miskonsepsi Gizi dan Sanitasi

Tantangan di lapangan kerap bermuara pada miskonsepsi masyarakat terkait pemenuhan gizi. Edukasi nutrisi yang terjangkau menjadi instrumen penting dalam melawan pola pikir lama.

"Banyak masyarakat yang masih menganggap bahwa makanan bergizi itu harus mahal. Di sinilah peran edukasi kita menjadi sangat penting. Kita harus terus mensosialisasikan bahwa protein hewani pencegah stunting bisa didapatkan dari bahan yang terjangkau seperti telur, ikan lele, dan tahu tempe yang diolah dengan baik, bukan dari makanan ringan instan atau susu kental manis," papar Ranty.

Langkah mitigasi juga wajib menyentuh fase hulu, yakni pengawalan ketat pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) serta perbaikan kualitas sanitasi lingkungan.

"Masa 1000 HPK ini dimulai sejak bayi berada dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun. Ibu hamil harus dipastikan mengonsumsi tablet tambah darah dan asupan gizinya terpenuhi agar tidak melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Stunting tidak hanya disebabkan oleh kurangnya asupan gizi, tetapi juga oleh infeksi berulang akibat lingkungan yang kotor. Sanitasi yang buruk, perilaku buang air sembarangan, serta akses air bersih yang minim sangat memicu diare dan cacingan pada balita, yang pada akhirnya menguras nutrisi di dalam tubuh mereka," urainya.

Presisi Data sebagai Kunci Deteksi Dini

Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan standar pelayanan, Bimbingan Teknis memegang peran vital. Camat Baros, Angga Sugia Wijaya, menyoroti pentingnya pembaruan ilmu bagi para kader agar intervensi di lapangan berjalan presisi.

"Melalui Bimtek ini, kapasitas dan kapabilitas ibu-ibu akan kembali disegarkan dan ditingkatkan. Jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang ada. Mari kita jadikan forum ini sebagai ajang untuk saling bertukar pengalaman dan memecahkan kendala-kendala di lapangan," kata Angga.

Keakuratan data dari tangan kader menjadi penentu utama dalam pengambilan tindakan rujukan. Kesalahan fatal dalam pengukuran bisa berakibat pada keterlambatan penanganan medis.

"Saya menaruh harapan besar, setelah Bimtek ini, tidak ada lagi kader yang ragu dalam melakukan pengukuran tinggi badan menggunakan length board atau mikrotoa secara presisi. Ketepatan dalam mengukur dan mencatat adalah kunci. Jika deteksi dini akurat, balita yang berisiko bisa segera dirujuk ke Puskesmas untuk mendapatkan penanganan medis sebelum terlambat," tandas Angga.

Pewarta : Kang Warsa
Dokumentasi : Iqbal

DOKPIM KOTA SUKABUMI
Pranata Kehumasan : Ross Pristianasari

0/Komentar

Silakan kirim saran dan komentar anda

Lebih baru Lebih lama

Headline