Forum internasional ini berlangsung sejak 3–5 September 2025 dengan mengusung tema besar Culture for Future, menegaskan bahwa budaya bukan hanya sekadar warisan masa lalu, tetapi fondasi penting bagi masa depan yang damai, stabil, dan saling terhubung.
Dalam sesi bertema Digital Heritages and AI for Culture, Ranty Rachmatilah menyampaikan pandangannya mengenai posisi manusia di tengah perkembangan teknologi.
Ia menegaskan bahwa kecerdasan buatan (AI) tidak akan pernah bisa menggantikan manusia karena tidak memiliki feel, emosi, empati, intuisi, maupun pengalaman subjektif.
“AI tidak memiliki kesadaran diri dan pengalaman yang menjadi dasar rasa manusia. Jadi, intinya tidak dapat menggantikan manusia,” ujar Ranty.
Ia juga menekankan bahwa budaya sering dianggap sebatas masa lalu, padahal yang lebih penting adalah bagaimana generasi muda bisa memahami dan mencintai warisan budaya tersebut.
Menurutnya, keberlanjutan budaya hanya akan terjamin jika ada upaya nyata untuk mengenalkan dan menanamkan kecintaan pada budaya sejak usia dini.
Chandi Summit 2025 sendiri merupakan forum tingkat tinggi yang berfokus pada Culture, Heritage, Art, Narrative, Diplomacy, and Innovation (Chandi).
Forum ini menghadirkan pemimpin, pegiat budaya, akademisi, hingga perwakilan negara untuk bertukar gagasan serta merumuskan peran budaya sebagai kekuatan pemersatu global.
Kehadiran Ranty Rachmatilah di ajang bergengsi ini menjadi bentuk kontribusi Kota Sukabumi dalam mendorong diplomasi budaya sekaligus memperkuat peran Indonesia di kancah internasional.
Pewarta : Kang Warsa
Dokumentasi : Agus Rustiawandi
DOKPIM KOTA SUKABUMI
Pranata Kehumasan
Ross Pristianasari



Posting Komentar
Silakan kirim saran dan komentar anda