Puspa Swara Wanoja Sunda Gaungkan Seni, Rasa, dan Budaya Sunda di Bale Gede Pakuan

Babak final Puspa Swara Wanoja Sunda yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Barat di Bale Gede Pakuan, Ahad (17/5/2026), berlangsung meriah.

Kegiatan tersebut ditutup langsung oleh Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi dan dihadiri Wali Kota Sukabumi, H. Ayep Zaki bersama Ketua TP-PKK Kota Sukabumi Ranty Rachmatilah.

Mengusung tema “Ngaguar Asih, Ngahudangkeun Rasa”, kegiatan tersebut menghadirkan makna filosofis tentang pentingnya membangkitkan rasa welas asih melalui keindahan suara yang berpadu dengan keasrian budaya dan lingkungan tatar Sunda.

Tim juri, Farhan dan Gege, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap seluruh finalis yang tampil pada babak puncak.

Menurut mereka, seluruh peserta telah menunjukkan kualitas terbaik sejak tahap kualifikasi hingga final.

“Peserta sudah menampilkan yang terbaik dari babak kualifikasi. Kami sangat mengapresiasi semua penampilan. Bukan hanya sekadar apa adanya, tapi ada apanya,” ujar tim juri dalam ulasannya.

Mereka juga menilai persaingan pada babak final berlangsung sangat kompetitif karena seluruh peserta tampil dengan kualitas yang merata. Dari total 67 peserta yang mengikuti seleksi, tersisa 10 finalis yang dinilai layak menjadi juara.

Pengumuman pemenang disampaikan Ketua TP-PKK Jawa Barat Siska Gerfianti. Dari 10 finalis yang tampil, komposisi peserta terdiri atas empat kelompok TP-PKK, empat kelompok PGRI, satu Persit, dan satu Bhayangkari.

Dalam arahannya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan panitia penyelenggara.

Ia bahkan menyatakan akan mengganti seluruh ongkos peserta sebesar Rp20 juta sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan semangat para peserta dalam melestarikan seni budaya Sunda.

“Saya merasa sebagai warga biasa saja karena kehidupan saya tanpa protokoler. Kuncinya percaya sama hati. Problem kita satu, yang pintar banyak tapi yang punya hati sedikit,” ujar Dedi Mulyadi.

Ia juga menekankan pentingnya estetika, rasa, serta intuisi dalam kehidupan dan karya seni. Menurutnya, kehidupan memiliki frekuensi dan gelombang yang harus ditangkap manusia melalui hati dan kepekaan rasa agar mampu melahirkan karya yang bermakna.

“Nete taraje nincak hambalan daripada nete semplek nincak semplak. Dari sinilah lahir karya seni,” ungkapnya.

Kegiatan Puspa Swara Wanoja Sunda tidak hanya menjadi ajang kompetisi paduan suara perempuan, tetapi juga ruang pelestarian budaya Sunda melalui pendekatan seni dan nilai-nilai kemanusiaan.

Melalui kegiatan ini, semangat gotong royong, keindahan rasa, serta kecintaan terhadap budaya daerah terus dihidupkan di tengah masyarakat Jawa Barat.

Selain mempererat silaturahmi antardaerah, kegiatan tersebut juga menjadi bukti bahwa seni budaya masih memiliki ruang penting dalam pembangunan karakter masyarakat.

Kehadiran para peserta dari berbagai unsur organisasi menunjukkan bahwa budaya Sunda tetap hidup, berkembang, dan mampu menjadi media pemersatu masyarakat di Jawa Barat.

Pewarta : Kang Warsa
Dokumentasi : Fadhil

DOKPIM KOTA SUKABUMI
Pranata Kehumasan : Ross Pristianasari

0/Komentar

Silakan kirim saran dan komentar anda

Lebih baru Lebih lama

Headline