Menurutnya, baik sebagai aparatur sipil negara, pengurus organisasi, orang tua, maupun anggota masyarakat, setiap individu perlu mengembangkan kecerdasan emosional dan spiritual selain kecerdasan intelektual.
Pernyataan tersebut disampaikan Ranty Rachmatilah saat membuka Seminar Smart Service Parenting bertajuk “Memahami Bahasa Kalbu, Strategi Komunikasi Efektif dalam Pelayanan Publik dan Pengasuhan” yang digelar Tim Penggerak PKK Kota Sukabumi di GOR Merdeka, Kamis (4/6).
Kegiatan tersebut dihadiri para pengurus TP PKK, kepala perangkat daerah, kader PKK, kader Posyandu, tokoh masyarakat, serta berbagai unsur lainnya.
Dalam sambutannya, Ranty mengatakan TP PKK Kota Sukabumi terus berupaya menjadi mitra pemerintah dalam mewujudkan cita-cita pembangunan melalui fungsi sebagai penggerak, pengendali, fasilitator, dan motivator yang selaras dengan 10 Program Pokok PKK.
Upaya tersebut dilakukan untuk memperkuat ketahanan keluarga dan mendorong pola pengasuhan yang positif di tengah masyarakat.
Sebagai bentuk komitmen tersebut, TP PKK Kota Sukabumi menghadirkan pakar neurospiritual dan komunikasi keluarga, dr. Aisah Dahlan, sebagai narasumber utama seminar.
Menurut Ranty, kegiatan ini merupakan bagian dari ikhtiar menghadirkan ruang belajar yang bermanfaat bagi ASN, khususnya para guru, serta masyarakat agar semakin banyak ilmu pengasuhan yang dapat disebarluaskan kepada para orang tua di Kota Sukabumi.
Ranty menjelaskan bahwa seminar tersebut diinisiasi sebagai ruang pembelajaran bersama untuk meningkatkan kapasitas diri.
Tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini, kata dia, tidak cukup diselesaikan hanya dengan kecerdasan intelektual, tetapi juga memerlukan kecerdasan emosional dan spiritual yang kuat.
Ia menilai banyak persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya bukan berawal dari niat buruk, melainkan karena kesalahpahaman, kurangnya komunikasi, dan ketidakmampuan memahami sudut pandang orang lain.
Oleh karena itu, kemampuan memahami bahasa kalbu menjadi sangat penting agar komunikasi dapat berjalan lebih baik dan berbagai persoalan dapat diselesaikan dengan pendekatan yang lebih bijaksana.
Dalam kesempatan tersebut, Ranty juga mengajak masyarakat untuk memahami bahwa pembangunan daerah membutuhkan proses yang panjang.
Menurutnya, membangun sebuah kota tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat karena memerlukan perencanaan, kerja sama, konsistensi, serta tahapan yang harus dijalankan secara berkesinambungan.
Ia menegaskan bahwa berbagai program pembangunan dan janji politik memerlukan fondasi yang kuat, perbaikan sistem, serta dukungan seluruh pihak agar hasilnya benar-benar dapat dirasakan masyarakat.
Karena itu, komunikasi yang baik, keterbukaan, dan empati menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan publik.
Ranty juga menyampaikan pandangannya mengenai kepemimpinan. Menurutnya, seorang pemimpin tidak akan pernah mampu menyenangkan semua orang, namun harus terus berusaha memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.
Semangat tersebut, kata dia, perlu menjadi pegangan bagi para pemimpin di berbagai tingkatan dan organisasi.
Di tengah kehidupan yang semakin terbuka dan penuh perbedaan pandangan, Ranty mengajak seluruh peserta untuk menyikapi berbagai persoalan secara lebih bijaksana. Ia mendorong penyelesaian masalah melalui dialog dan komunikasi yang baik, bukan melalui prasangka maupun emosi yang berlebihan.
Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya mengubah cara pandang terhadap keberhasilan. Menurutnya, keberhasilan tidak diukur dari kemampuan mengungguli orang lain, melainkan dari kemampuan menjadi pribadi yang lebih baik dari hari sebelumnya.
Ranty juga mengajak masyarakat untuk lebih fokus pada upaya memperbaiki diri dibandingkan mengkritik orang lain. Orang yang sibuk bertumbuh dan membangun, ujarnya, akan lebih banyak menggunakan energinya untuk mencari solusi, melayani masyarakat, membina keluarga, dan menciptakan perubahan yang bermanfaat.
Selain itu, ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah menghakimi orang lain ketika melihat kesalahan atau kegagalan yang terjadi. Sebab, setiap orang memiliki proses pembelajaran dan tantangan hidup yang berbeda yang belum tentu diketahui oleh orang lain.
“Pada akhirnya masyarakat tidak membutuhkan pemimpin yang sempurna, ASN yang sempurna, ataupun orangtua yang sempurna. Yang dibutuhkan adalah orang-orang yang tulus, mau mendengar, mau belajar, dan terus berusaha memperbaiki keadaan,” ungkapnya.
Karena itu, Ranty mengajak seluruh peserta untuk membangun budaya yang saling menguatkan, menjadi bagian dari solusi, serta mengedepankan kebijaksanaan dalam berbicara dan empati dalam bertindak.
Sementara itu, dalam sesi materi, dr. Aisah Dahlan memaparkan konsep Neurospiritual yang menekankan pentingnya sinergi antara akal dan qalbu dalam membangun komunikasi yang efektif. Menurutnya, manusia dipandu oleh akal yang berada di dalam otak dan qalbu yang menjadi pusat nilai serta perasaan.
Ia menjelaskan bahwa komunikasi yang efektif dalam pelayanan publik maupun pengasuhan harus mampu menyentuh akal sekaligus qalbu agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik dan membentuk memori positif.
Dalam pemaparannya, dr. Aisah juga menjelaskan adanya perbedaan fitrah antara laki-laki dan perempuan, termasuk dalam pola komunikasi sehari-hari. Perbedaan tersebut perlu dipahami agar komunikasi dalam keluarga maupun lingkungan kerja dapat berlangsung lebih efektif dan harmonis.
Pada konteks pengasuhan, dr. Aisah menegaskan bahwa ibu merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak. Oleh karena itu, pemahaman mengenai cara kerja otak, pola komunikasi, dan bahasa qalbu menjadi bekal penting bagi para ibu dalam membentuk karakter serta memori positif anak sejak usia dini.
Melalui seminar ini, TP PKK Kota Sukabumi berharap para peserta semakin memahami pentingnya komunikasi yang berlandaskan empati dan hati nurani, sehingga mampu memberikan pelayanan publik yang lebih baik sekaligus menghadirkan pola pengasuhan yang lebih berkualitas bagi generasi penerus bangsa.
| Pewarta | : Zauhara |
| Dokumentasi | : Iqbal |
DOKPIM KOTA SUKABUMI |
|
| Pranata Kehumasan | : Ross Pristianasari |





Posting Komentar
Silakan kirim saran dan komentar anda