Yeni Mariyani dikukuhkan sebagai Ketua TP-PKK Kecamatan Warudoyong, sedangkan Siti Khomsanah dipercaya memimpin TP-PKK Kecamatan Lembursitu. Keduanya menyatakan kesanggupan menjalankan tugas dan meningkatkan peran PKK di wilayah masing-masing.
Prosesi tersebut dihadiri unsur kecamatan dan kelurahan, camat, sekretaris camat, jajaran TP-PKK kecamatan dan kelurahan, serta pengurus dan kader TP-PKK Kota Sukabumi.
Dalam arahannya, Ranty meminta kader PKK mampu membaca perubahan kondisi pemerintahan, termasuk keterbatasan anggaran. Situasi tersebut perlu dijawab dengan kreativitas, komunikasi, koordinasi, dan kemampuan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia.
“Dana boleh terbatas, tetapi gerakan tidak boleh mati,” tegas Ranty.
Ia meminta persoalan yang muncul di lapangan diselesaikan melalui komunikasi dan koordinasi, bukan dengan saling menyalahkan. Setiap kecamatan dan kelurahan dapat menyesuaikan pelaksanaan program dengan kondisi serta potensi wilayah masing-masing, sepanjang tetap berada dalam koridor aturan.
PKK sebagai Gerakan
Ranty juga mengajak kader mengubah cara pandang terhadap PKK. Program pemberdayaan keluarga harus dipahami sebagai gerakan yang tumbuh dari masyarakat, sehingga keberlangsungannya tidak bergantung sepenuhnya pada ketersediaan anggaran.
“Mari kita ubah paradigma bahwa PKK adalah gerakan, bukan proyek. Ketika uang tidak ada, bukan berarti program berhenti. Kita harus memutar otak bagaimana program tetap berjalan,” kata Ranty.
Ia mendorong perubahan pola kerja dari kegiatan yang berorientasi acara menjadi kebiasaan yang dilakukan secara konsisten. Sepuluh Program Pokok PKK tetap dapat dijalankan melalui langkah sederhana yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
“Ubah acara menjadi kebiasaan. Tidak harus selalu ada kegiatan besar. Yang penting gerakannya ada dan dilakukan secara konsisten,” ujarnya.
Pola tersebut juga membuka ruang kolaborasi dengan perangkat daerah, dunia usaha, tokoh masyarakat, komunitas, organisasi, dan berbagai unsur lain yang memiliki potensi untuk mendukung program PKK.
Satu kegiatan dapat dirancang untuk mendukung beberapa tujuan sekaligus sehingga sumber daya yang terbatas tetap menghasilkan manfaat yang luas.
Dari Pekarangan hingga Pengelolaan Sampah
Setelah prosesi pengukuhan, kegiatan dilanjutkan dengan pembinaan Pokja III TP PKK Kota Sukabumi. Pembinaan difokuskan pada penguatan program Aku Hatinya PKK dan penerapan ekonomi sirkular dengan tema “Menuju Merdeka Sampah”.
Ketua Bidang III TP PKK Kota Sukabumi, Rahmi, menyampaikan materi mengenai pengelolaan sampah dan pemanfaatan pekarangan. Ia mengajak keluarga memulai penerapan ekonomi sirkular dari rumah melalui pemilahan dan pemanfaatan kembali berbagai jenis sampah.
Prinsip Reduce, Reuse, Recycle dapat diterapkan melalui kebiasaan sehari-hari. Sampah organik dapat diolah dan dimanfaatkan kembali, sedangkan sampah anorganik dipilah untuk digunakan kembali atau dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Program Aku Hatinya PKK juga diarahkan untuk mengoptimalkan pekarangan rumah sebagai ruang produktif. Berbagai jenis sayuran, buah, tanaman pangan, dan kebutuhan rumah tangga dapat dibudidayakan sesuai luas serta kondisi lahan.
Pemanfaatan pekarangan memiliki kaitan dengan ketahanan pangan keluarga, pemenuhan gizi, efisiensi pengeluaran rumah tangga, pencegahan stunting, sekaligus penciptaan lingkungan yang lebih hijau dan sehat. Bank Sampah yang telah tumbuh di sejumlah wilayah juga dapat diperkuat sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Melalui gerakan “Menuju Merdeka Sampah”, perubahan perilaku menjadi titik penting. Sampah perlu dikurangi sejak dari sumbernya, dipilah, dimanfaatkan, dan bila memungkinkan diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi.
Enam Nilai dalam Gerakan PKK
Ranty juga menyampaikan enam nilai yang perlu menjadi pegangan kader dalam menjalankan pengabdian, yakni keikhlasan, komunikasi efektif, inovasi, integritas dan kejujuran, kolaborasi, serta tanggung jawab bersama.
Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi dalam menjalankan program sekaligus membangun hubungan kerja yang sehat antara kader, masyarakat, pemerintah, dan berbagai mitra.
Ranty mengingatkan bahwa setiap wilayah memiliki persoalan dan potensi yang berbeda. Karena itu, pelaksanaan program tidak perlu dipaksakan menggunakan pola yang sama.
“Saya tidak meminta semuanya sempurna. Sesuaikan dengan kondisi dan potensi masing-masing wilayah. Yang penting tetap bergerak dan memberikan manfaat kepada masyarakat,” katanya.
Keterbatasan anggaran juga perlu disikapi melalui penentuan prioritas. Program yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat perlu mendapat perhatian, termasuk penguatan Posyandu dan penanganan stunting.
Kader juga dapat berperan membantu masyarakat yang menghadapi persoalan data maupun akses layanan sosial dengan meneruskannya melalui jalur koordinasi yang tersedia, mulai dari kelurahan, kecamatan, hingga perangkat daerah terkait. Cara tersebut memungkinkan setiap persoalan ditangani melalui mekanisme yang tepat.
Bergerak dari Hal-Hal Sederhana
Ranty menutup arahannya dengan mengajak kader tetap kreatif dan tidak menunggu kondisi ideal untuk menjalankan gerakan pemberdayaan.
“Mari kita berkreasi tanpa batas, bergerak tanpa menunggu, dan tetap berdaya di tengah keterbatasan. Saya berharap setelah pulang dari sini ada ilmu dan gagasan yang bisa dibawa dan dipraktikkan di wilayah masing-masing,” pungkasnya.
Pengukuhan Ketua TP PKK Kecamatan Warudoyong dan Lembursitu sekaligus pembinaan Pokja III mempertemukan dua agenda penting gerakan PKK: penguatan organisasi dan penguatan manfaat program.
Dari tingkat kecamatan hingga keluarga, gerakan tersebut dapat tumbuh melalui kebiasaan sederhana, pemanfaatan potensi lokal, kerja sama lintas pihak, serta keberanian mencari cara baru ketika sumber daya terbatas.
Dengan pola kerja semacam itu, PKK tetap memiliki ruang luas untuk hadir dalam persoalan keseharian masyarakat dan menjadikan pemberdayaan keluarga sebagai gerakan yang terus hidup.
Dari Pekarangan hingga Pengelolaan Sampah
Setelah prosesi pengukuhan, kegiatan dilanjutkan dengan pembinaan Pokja III TP PKK Kota Sukabumi. Pembinaan difokuskan pada penguatan program Aku Hatinya PKK dan penerapan ekonomi sirkular dengan tema “Menuju Merdeka Sampah”.
Ketua Bidang III TP PKK Kota Sukabumi, Rahmi, menyampaikan materi mengenai pengelolaan sampah dan pemanfaatan pekarangan. Ia mengajak keluarga memulai penerapan ekonomi sirkular dari rumah melalui pemilahan dan pemanfaatan kembali berbagai jenis sampah.
Prinsip Reduce, Reuse, Recycle dapat diterapkan melalui kebiasaan sehari-hari. Sampah organik dapat diolah dan dimanfaatkan kembali, sedangkan sampah anorganik dipilah untuk digunakan kembali atau dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Program Aku Hatinya PKK juga diarahkan untuk mengoptimalkan pekarangan rumah sebagai ruang produktif. Berbagai jenis sayuran, buah, tanaman pangan, dan kebutuhan rumah tangga dapat dibudidayakan sesuai luas serta kondisi lahan.
Pemanfaatan pekarangan memiliki kaitan dengan ketahanan pangan keluarga, pemenuhan gizi, efisiensi pengeluaran rumah tangga, pencegahan stunting, sekaligus penciptaan lingkungan yang lebih hijau dan sehat. Bank Sampah yang telah tumbuh di sejumlah wilayah juga dapat diperkuat sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Melalui gerakan “Menuju Merdeka Sampah”, perubahan perilaku menjadi titik penting. Sampah perlu dikurangi sejak dari sumbernya, dipilah, dimanfaatkan, dan bila memungkinkan diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi.
Enam Nilai dalam Gerakan PKK
Ranty juga menyampaikan enam nilai yang perlu menjadi pegangan kader dalam menjalankan pengabdian, yakni keikhlasan, komunikasi efektif, inovasi, integritas dan kejujuran, kolaborasi, serta tanggung jawab bersama.
Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi dalam menjalankan program sekaligus membangun hubungan kerja yang sehat antara kader, masyarakat, pemerintah, dan berbagai mitra.
Ranty mengingatkan bahwa setiap wilayah memiliki persoalan dan potensi yang berbeda. Karena itu, pelaksanaan program tidak perlu dipaksakan menggunakan pola yang sama.
“Saya tidak meminta semuanya sempurna. Sesuaikan dengan kondisi dan potensi masing-masing wilayah. Yang penting tetap bergerak dan memberikan manfaat kepada masyarakat,” katanya.
Keterbatasan anggaran juga perlu disikapi melalui penentuan prioritas. Program yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat perlu mendapat perhatian, termasuk penguatan Posyandu dan penanganan stunting.
Kader juga dapat berperan membantu masyarakat yang menghadapi persoalan data maupun akses layanan sosial dengan meneruskannya melalui jalur koordinasi yang tersedia, mulai dari kelurahan, kecamatan, hingga perangkat daerah terkait. Cara tersebut memungkinkan setiap persoalan ditangani melalui mekanisme yang tepat.
Bergerak dari Hal-Hal Sederhana
Ranty menutup arahannya dengan mengajak kader tetap kreatif dan tidak menunggu kondisi ideal untuk menjalankan gerakan pemberdayaan.
“Mari kita berkreasi tanpa batas, bergerak tanpa menunggu, dan tetap berdaya di tengah keterbatasan. Saya berharap setelah pulang dari sini ada ilmu dan gagasan yang bisa dibawa dan dipraktikkan di wilayah masing-masing,” pungkasnya.
Pengukuhan Ketua TP PKK Kecamatan Warudoyong dan Lembursitu sekaligus pembinaan Pokja III mempertemukan dua agenda penting gerakan PKK: penguatan organisasi dan penguatan manfaat program.
Dari tingkat kecamatan hingga keluarga, gerakan tersebut dapat tumbuh melalui kebiasaan sederhana, pemanfaatan potensi lokal, kerja sama lintas pihak, serta keberanian mencari cara baru ketika sumber daya terbatas.
Dengan pola kerja semacam itu, PKK tetap memiliki ruang luas untuk hadir dalam persoalan keseharian masyarakat dan menjadikan pemberdayaan keluarga sebagai gerakan yang terus hidup.
| Pewarta | : Indah |
| Dokumentasi | : Fadhil |
DOKPIM KOTA SUKABUMI |
|
| Pranata Kehumasan | : Ross Pristianasari |





Posting Komentar
Silakan kirim saran dan komentar anda