Ketua TP PKK: Teknologi Jangan Sampai Mengambil Kemampuan Berpikir Anak

Ketua Tim Penggerak PKK Kota Sukabumi, Ranty Rachmatilah, mengingatkan pentingnya pendampingan orang tua dan guru dalam menghadapi perkembangan remaja di era digital. Menurutnya, teknologi bukanlah ancaman, tetapi penggunaan yang tidak bijak dapat mengikis kemampuan berpikir kritis generasi muda.

Pesan tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi siswa baru SMPN 16 Kota Sukabumi, Kamis (16/7/2026).

Dalam pemaparannya, Ranty menegaskan bahwa masa sekolah menengah pertama merupakan fase yang sangat menentukan dalam perkembangan manusia.

Pada usia tersebut, otak remaja sedang mengalami pertumbuhan yang sangat pesat sehingga membutuhkan lingkungan yang memahami proses perkembangan tersebut.

"Teknologi bukan musuh, tetapi jika tidak digunakan dengan bijak, teknologi bisa mengambil sesuatu yang paling berharga, yaitu kemampuan berpikir," kata Ranty di hadapan para siswa baru.

Ia menjelaskan, perubahan perilaku remaja pada masa transisi menuju dewasa sering kali disalahartikan sebagai bentuk pembangkangan. Padahal, secara ilmiah, kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari perkembangan struktur otak yang belum sepenuhnya matang.

Karena itu, menurutnya, pendekatan yang mengedepankan pemahaman psikologis jauh lebih efektif dibandingkan sekadar memberikan hukuman atau larangan.

Ranty mengatakan perkembangan teknologi digital telah menghadirkan berbagai kemudahan dalam memperoleh informasi.

Namun, di sisi lain, ketergantungan yang berlebihan terhadap gawai dan media digital berpotensi menurunkan kemampuan anak untuk berpikir kritis, menganalisis persoalan, serta menyelesaikan masalah secara mandiri.

Ia mengingatkan bahwa kemampuan berpikir merupakan aset paling berharga yang harus dijaga oleh setiap generasi muda.

Oleh sebab itu, penggunaan teknologi harus diarahkan sebagai sarana belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi, bukan sekadar media hiburan yang menghabiskan waktu.

Menurut Ranty, tanggung jawab membentuk kebiasaan digital yang sehat tidak hanya berada di tangan keluarga, tetapi juga menjadi tugas sekolah dan seluruh ekosistem pendidikan.

Sinergi antara pemahaman tentang perkembangan otak remaja dengan pola asuh yang adaptif dinilai menjadi kunci dalam membentuk karakter anak di tengah derasnya arus transformasi digital.

Ia mengajak para siswa untuk mulai membangun kontrol diri dalam menggunakan gawai serta memanfaatkan teknologi secara produktif.

Dengan demikian, kemajuan teknologi dapat menjadi alat untuk meningkatkan kualitas diri tanpa mengorbankan kemampuan berpikir, kreativitas, dan karakter.

"Perlindungan terhadap kemampuan berpikir anak hari ini adalah jaminan lahirnya pemimpin masa depan yang inovatif, solutif, dan berintegritas," ujar Ranty.

Melalui materi yang disampaikan pada MPLS tersebut, para siswa diharapkan tidak hanya mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Bekal tersebut dinilai penting agar generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, dan mampu menghadapi tantangan era digital secara bijaksana.

Pewarta : Esty
Dokumentasi : Iqbal

DOKPIM KOTA SUKABUMI
Pranata Kehumasan : Ross Pristianasari

0/Komentar

Silakan kirim saran dan komentar anda

Lebih baru Lebih lama

Headline